Apa yang Kita Cari dalam Hidup?
Pertanyaan ini, menggunjang Nalar Manusia dari zaman Pra Sejarah inggah Dunia dewasa ini.
" Apa yang sebenarnya membuat manusia terus mencari?
silakan simak dan memahami mencari makna dalam Hidup.
personal.psu.edu
Grup band Dream Theater terkenal dengan salah satu lagunya yang berjudul Spirit Carries On.
Kalimat-kalimat pertama di dalam lagu itu amatlah menyentuh. Bunyinya
begini: darimana kita berasal? Mengapa kita ada disini? Kemana kita
pergi, setelah kita mati?
Ini adalah pertanyaan-pertanyaan dasar yang dimiliki setiap orang.
Agama berusaha menjawabnya. Terkadang, jawaban itu tidak cukup, karena
manusia berubah, dan ia membutuhkan jawaban baru atas situasi hidupnya.
Pertanyaan-pertanyaan ini, menurut saya, bisa dikerucutkan ke dalam dua
pertanyaan dasar, yakni apa yang kita cari dalam hidup kita, dan
bagaimana kita berusaha mendapatkannya?
Di dalam bukunya yang berjudul Symposion, atau perjamuan, Plato berusaha menjawab pertanyaan ini secara tidak langsung. Ia berbicara soal Eros, dewa cinta di dalam tradisi Yunani Kuno.1
Buku ini terdiri dari sekitar 80 halaman, dan terdiri dari
dialog-dialog indah dan terkesan ironis. Latar belakang dari isi buku
ini adalah pesta dari Agathon, seorang penyair, yang berhasil
memenangkan perlombaan.
Di dalam pesta
ini, setiap orang harus memberikan pujian mereka terhadap Eros, dewa
cinta. Orang pertama yang melakukan ini adalah Phaidros. Baginya, Eros
adalah dewa yang tertua dan paling terhormat. “Eros”, demikian tulis
Siegfried tentang Plato, “menjadi lambang dari kecantikan, ia menjadi
inspirasi hidup bagi para pejuang yang mencari kesempurnaan.”
Orang kedua
adalah Pausanias. Ia membedakan dua bentuk dari Eros, yakni yang
terpusat pada upaya untuk menghasilkan keturunan, atau seks, dan Eros
yang terpusat pada pembentukan cinta sejati. Pausanias berpendapat, kita
harus memuji yang kedua, karena Eros tersebut mendorong kita untuk
menjadi manusia yang memiliki keutamaan. Cinta yang sejati juga
mendorong kita tidak hanya memperhatikan kehidupan pribadi kita, tetapi
juga kehidupan orang lain, dan kehidupan politik.
Orang ketiga
adalah Eryximachos, seorang dokter. Ia berpendapat, bahwa Eros juga
memiliki kemampuan untuk menyembuhkan. Cinta yang sejati itu menjauhkan
orang dari penyakit, dan mendorong orang untuk hidup sehat, karena cinta
sejati memberikan motivasi yang kuat bagi orang untuk meningkatkan
kualitas hidupnya. Hal ini bisa dibuktikan secara rasional, dan bukan
hanya kepercayaan belaka.
Orang keempat
adalah Aristophanes. Ia menuturkan sebuah cerita tentang manusia di
jaman dahulu yang memiliki empat kaki, empat tangan dan dua wajah. Ada
yang pria, wanita, dan ada yang memiliki kelamin campuran, yakni
sekaligus pria dan wanita. Keberadaan mereka membuat takut para dewa,
sehingga para dewa memutuskan untuk membelah manusia-manusia ini menjadi
dua.
Inilah manusia
yang kita lihat sekarang, yakni manusia yang terbelah. Ia hanya punya
dua tangan (sebelumnya empat), dua kaki (sebelumnya juga empat), dan
satu wajah (sebelumnya dua). Sejak saat itu, setiap orang terdorong
untuk mencari pasangan tubuhnya yang dahulu. Cinta yang sejati adalah
penyatuan kembali dua manusia yang dulu satu, namun dipisahkan oleh
kecemburuan para dewa. Jika orang menemukan pasangan jiwanya ini, maka
ia akan memperoleh kebahagiaan yang sejati.
Agathon, sang
tuan rumah perjamuan, juga menyampaikan pendapatnya soal Eros, sang dewa
cinta. Ia memuja Eros sebagai dewa tertinggi di dalam tradisi Yunani,
karena ia memiliki keadilan dan kebijaksanaan di dalam dirinya. Inilah
dua keutamaan tertinggi di dalam budaya Yunani Kuno. Eros dianggap
sebagai “penubuhan”, atau bentuk nyata, dari dua keutamaan itu.
Sokrates, salah
satu tokoh dalam dialog yang ditulis Plato, juga adalah tamu di dalam
perjamuan itu. Ia kemudian mengajukan pendapatnya tentang Eros. Bagi
Sokrates, Eros bukanlah dewa, melainkan Dämon, yakni penghubung
antara manusia dengan dewa. Eros juga bukanlah kebaikan yang utama itu
sendiri, melainkan gerak untuk mencapai kebaikan yang utama itu (Streben nach dem Schönen).
Eros adalah
anak dari dua dewa, yakni Poros (Dewa Kelicikan) dan Penia (Dewa
Kemiskinan). Maka dari itu, Eros mewarisi sifat-sifat dari dua orang
tuanya. Ia sekaligus miskin dan hidup sebagai gelandangan, tetapi juga
amat cerdas dan bahkan licik, guna mencapai tujuan-tujuannya. Ia bisa
dengan mudah mendapatkan apa yang ia butuhkan, walaupun ia tak pernah
bisa sungguh memiliki apa yang ia dapatkan, karena apa yang ia dapatkan
selalu meleleh di gengagaman tangannya.
Eros selalu
berada dalam keadaan kurang. Ia selalu kosong, dan tak punya apapun. Ia
bahkan tak punya tujuan. Ia selalu bergerak dan mencari, tanpa pernah
bisa sungguh memiliki apa yang ia dapatkan.
Plato kemudian
mengajukan pendapatnya, bahwa Eros adalah figur yang harus ditiru oleh
semua filsuf. Eros selalu berada dalam proses mengejar kesempurnaan dan
kebenaran, tetapi tidak pernah sungguh bisa memperoleh kesempurnaan dan
kebenaran itu. Hal yang sama haruslah menjadi pola berpikir para filsuf.
Mereka berusaha bergerak mencari dan menemukan kebijaksanaan, tanpa
pernah bisa memilikinya secara utuh.
Kekuatan di
balik gerak Eros, menurut Plato, adalah cinta itu sendiri, yakni cinta
untuk menemukan kebaikan, kebenaran dan keindahan yang sejati.
Satu-satunya yang ia miliki adalah perasaan puas di dalam pencarian itu
sendiri. Gerak dan proses itu sendiri adalah tujuan utamanya. Tujuan
itu, yakni kebaikan, kebenaran dan keindahan, tentu tidak akan pernah
dicapai oleh manusia di dalam hidupnya, namun kerinduan akan ketiga hal
itu akan terus menghantui hidup manusia.
Hidup manusia
terbatas. Ia tidak bisa memperoleh apa yang ia inginkan. Namun,
kerinduan akan hal-hal yang berharga akan terus ada, yakni kerinduan
akan kebenaran, kebaikan dan keindahan yang sejati. Dari titik ini,
Plato menyimpulkan, bahwa kerinduan dan pengejaran akan kebaikan,
kebenaran dan keindahan juga adalah kerinduan akan keabadian (Sehnsucht nach Unsterblickeit).
Seperti sudah
disinggung sebelumnya, cinta adalah kekuatan di balik semua gerak ini.
Dalam arti ini, cinta memiliki arti yang luas, yakni cinta yang bersifat
sekaligus rohaniah dan badaniah terhadap kebenaran, kebaikan dan
kecantikan yang sejati. Bentuk nyata dari cinta semacam ini adalah
prokreasi, yakni menghasilkan keturunan. Prokreasi adalah tindakan yang
luhur dan mulia, karena kita, manusia yang akan mati ini, meneruskan
darah kita ke masa depan, dan berusaha untuk menjadi abadi.
Ada juga bentuk
lainnya dari usaha manusia, mahluk yang terbatas ini, untuk menjadi
abadi dan tak terbatas, melampaui dirinya. Seniman menjadi abadi dengan
karya-karya yang ia hasilkan. Politikus dan anggota parlemen menjadi
abadi dengan hukum-hukum maupun kebijakan-kebijakan yang ia rumuskan.
Plato menegaskan, bahwa ini adalah kebutuhan dasar setiap orang, yakni
untuk menjadi abadi melalui karyanya.
Hidup manusia
adalah bentuk dari kerinduan, yakni kerinduan pada kebaikan, kebenaran
dan keindahan yang sejati. Inilah juga yang menjadi inti sejati dari
Eros, sang penghubung antara manusia dan dewa. Iniilah juga yang menjadi
keunggulan manusia, jika dibandingkan dengan para dewa yang sudah
memiliki kebenaran, kebaikan dan kecantikan yang sejati. Manusia adalah
mahluk yang dengan cintanya terus berusaha untuk mencari ketiga hal ini
di dalam hidupnya, tetapi tidak pernah sungguh bisa menemukannya.
Kebahagiaan
juga merupakan hal yang ingin diraih manusia, tetapi tidak akan pernah
bisa diperolehnya. Kebahagiaan bisa didekati, tetapi tidak akan pernah
bisa digenggam dan dimiliki. Walaupun begitu, kita, manusia, terus
berusaha untuk menggapainya. Plato menyebut keadaan yang terus merindu
dan mencari ini sebagai bentuk tertinggi dari keberadaan manusia.
Setelah selesai
dengan penuturannya tentang Eros, Sokrates lalu kembali duduk untuk
minum bersama teman-temannya. Orang berikutnya adalah Alkibiades. Ia
tidak memuji Eros, tetapi justru memuji Sokrates yang dengan
kecerdasannya berhasil mempesona teman-temannya. Ia melakukannya dalam
keadaan mabuk. Perjamuan pun lalu berakhir.
glogster.com
Di dalam
bukunya yang berjudul Symposion, Plato berusaha merumuskan ulang arti
dari “manusia”. Inti dari manusia, menurutnya, adalah pencarian. Manusia
adalah mahluk yang terus mencari. Ketika ia menemukan yang ia cari, ia
tidak akan pernah bisa memilikinya, karena yang ia temukan itu otomatis
akan lepas dari tangannya.
Manusia adalah
mahluk yang mencari, tanpa pernah menemukan. Ia mendapatkan, tanpa
pernah memiliki. Ini memang terdengar sedih. Akan tetapi, Plato mengajak
kita untuk menyadari keadaan ini, dan menjadi bangga atasnya. Kita
sebagai manusia harus merayakannya, karena ini adalah kekuatan kita
sebagai manusia yang membedakan kita dengan para dewa.
Sikap ini juga
adalah tanda kerendahan hati. Orang yang terus mencari berarti akan
terus belajar. Ia tidak akan pernah puas dengan hal-hal yang ia ketahui.
Ia tidak akan pernah memutlakkan pemikirannya sebagai kebenaran utama
yang harus diikuti orang lain.
Dorongan
terdalam dari sikap selalu mencari ini adalah cinta. Cintalah yang
mendorong manusia untuk terus berusaha mencari, walaupun tak pernah
menemukan. Cintalah yang mendorong manusia untuk maju terus, tanpa
pernah sampai pada tujuan yang diinginkan. Cinta adalah kekuatan dasar
manusia yang membuatnya terus bergerak, walaupun tidak ada arah yang
ingin digenggam.
Dorongan untuk
terus mencari ini, kata Plato, juga adalah dorongan untuk sampai pada
keabadian. Dorongan ini, yang muncul dari cinta, tampak di dalam upaya
manusia untuk melanjutkan keturunan. Melalui anak cucunya, ia menjadi
abadi, walaupun ia nantinya akan mati. Juga melalui karya-karyanya, ia
bisa menjadi abadi, walaupun umurnya di dunia ini terbatas.
Plato
mengajarkan pada kita, bahwa proses adalah tujuan itu sendiri. Tidak ada
tujuan yang ingin dicapai, karena perjalanan hidup yang penuh dengan
pencarian itu adalah tujuan itu sendiri. Der Weg ist das Ziel,
kata orang Jerman. Inilah kebijaksanaan tua yang mulai lenyap di dalam
hidup kita yang penuh dengan tujuan-tujuan jangka pendek, yang kerap
hanya mencari kenikmatan dangkal semata.
1 Saya mengikuti uraian König, Siegfried, Hauptwerke der Philosophie: Von der Antike bis 20. Jahrhundert, 2013 dan Plato, Symposium, Howatson, M.C, et.al (eds), Cambridge University Press, Cambridge, 2008.
Oleh Reza A.A Wattimena (Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman)
Copyright 2017: rumahfilsafat.com

