Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Hal Kisah, Cerita Seorang Kakek Tua, di Negeri Beradap

Gambar
illustrasi Gb. google.com Suatu hari, ada seorang kakek tua yang butah, tinggal di daerah terpencil di pinggiran kota, setiap malam ia hanya mendengar hirup-hikuk kota yang begitu mega. Pada saat itu, ia mendengar rentetan bunyi meriam para aktor yang shakingnya membabi-butah utk membunuh semua makluk yang berada didaerah perkotaan..kericuan itu pukul mundur manusia dari dalam kota  Ke luar perkotaan itu..kakek itu me ndengar semakin dekat bunyian-bunyian meriam yang keluar dengan suara jeritan manusia, Ia tak gentar oleh bunyian itu, jiwanya seakan sudah membatuh, semua makluk tertelan dalam campuran kimia itu... saatnya tibah para algojo, menyusuri batas-batas kota tua itu, sambil menghabisi nyiawa makluk-maklu yang masih merintih kesakitan..tepatnya mereka masuk dirumah kakek itu, kakek itu terus bergumul dalam doanya, ketakutan semakin menguasahi matah hatinya, Ia pun semakin memanjatkan doa untuk mendoakan mereka yang melakukan kejahatan tak manusiawi itu,...

BAYANGAN

Gambar
BAYANGAN Mozaik - Inilah.com Bayangan mu hadir menikam bargaun pada bayangan hening kesepian berwajah lumpur bermandikan lumpur meraung pada siapa menunggu mujizat? menunggu kiamat? berbohong pada diri... berbohong pada naluri tertikam seakan tak merasakan menatap seakan tak melihat menyimak seakan tak mendengar jiwa hampa.... rindu padamu... menunggumu hingga ajalku tiba.  By: T.R/MRQ: 13/07/2018

HENING

Gambar
HENING VoxNtt.com Hening di bawah pondok duka, bersilimut lumpur wajah tak terurus berempuskan oksigen jiwa berterbangan enta kemana langkah itu,  kalungkan amarah,  mencoba sujud,  mencoba merelah tetapi wajah terus nampak amarah akan waktu amarah akan segalah ungkapan dan ucapan  sunggu sedih, bersujud memohon kekuata memohon cahaya pada pemilik hidup. By: T.R./MrQ 13/07/2018

Pulau Bersengketa

Gambar
Pulau Bersengketa  Tanahku dijadikan Tanah Oligarki. Tanahmu tanah bercangkok narkoba Semua ingin bersandiwara diatas Tulang-belulang Nenek Moyang Melanesia. Tak cukup akan kekuasaan Nyiawa pun dikuasai kekuasaan tirai tirani Harapan tertiup terbanyang Alam persembunyian dikebas oleh tangan besi Naluri dan insting makluk teriak poranda Wajah butah memimpin tanpa kesadaran. Inikah terurai terjanji Rumah diatas rumah pribumi Terlihat rapuh berbanding dahan rapuh Kemelut wabah asap Nyaris tak enti Pr/15 September 2017

Aroma Kebenaran

Gambar
Aroma Kebenaran Dunia memainkan Peran Sandiwara Ratusan Bilur yang dituangkan Demi  Kebenaran Ia waffat dan Bangkit dari Kemunafikan Para Algojo Dunia. Raganya diserahkan demi pemulian semesta Manusia diselamatkan dari tangan Penindas Harapan suci terselubung Agung dibawah sayab salib  kebisingan para penindasan tertuai Nyata Aroma  kebusukan kaum borjuis Kota Kini terurai rapuh. Lilitan duri dikepala melilit  Kebenaran paku tercantap merinding ditelapak tangan dan kaki Kebenaran  digantungkan dindahan yang rapuh. Bilur membasahi seluruh Negeri Babel Cawan Penguasa ternodai Harapan kaum papa terbental mulus Gemuruh sorak dipersembahkan pada Sang Surgawi. Dengan Hembusan Nafas berpaling Mendoakan rakyatnya Sambil menjerit  Kebenaran .. Wahai Rakyatku Burulah  kebenaran  kekal Sebab  Kebenaran  akan Bangkit Setelah Kalian mengejarnya Seperti Kutuhkan. Pr/Cogito/6/10/17

Tubuh Kecilku

Gambar
Tubuh Kecilku www.sastrapapua.com/2017/07/tubuh-kecilku. Tubuh ini milikn-Nya.. Aku pemilik negeri ini Walau tubuh ini milik-Nya tetapi aku pemiliknya Tiada kata Tiada suara Hanyalah sapĂ an Aku tidak butuh itu Aku mau jadi aku bukan sapaan Aku anak negeri ini Walau aku harus bermendung di bawah sayap apotek  K 24 jam Dengan muka nansedih Aku mau... Tdk juga suara cahaya bidadari Cendeawasih Menyentu aku dan membawa aku pada langit dan gunung ciklop... Aku kecil di selatan papua Aku mau.... Moga aku tetap aku... dan pemilik Negeri ini By T. Rembe

Nyamuk Kecil

Gambar
Nyamuk Kecil Tubuh kecil itu pilu di atas emas Tubuh kecil itu penuh dengan coretan kekayaan,  tetapi siapa sangka semua bukan milinya. Dibalik segalah kekayaan tubuh kecil itu beriak, Hadirlah nyamuk-nyamuk dengan segalah senyum dan tawa, Tersapa dengan godaan dan syair muslihat, beku dengan syaduh muslihat Nyamuk-nyamuk kecil terus menyerang tubuh ini, Darah tubuh ini terkuras dengan lilitan linta dan nyamuk itu, Tak berdaya Hanya ada senyum bukan kesedihan... Siapa yang tahu hal itu, Siapa yang menyadari hal itu, Hidup bukan mati; Hidup dijadikan mati. By T. Rembe ctt: Puisi-Puisi Karya T.Rembe Perna di Muat di  http://www.sastrapapua.com/

Aku dalam Pilihan Ibu

Gambar
Aku dalam Pilihan Ibu Its.Pribadi Sembilan bulan aku hidup mengembara Sembilan bulan aku dalam Gudang Emas Sembilan Bulan aku terpilih Ia memili aku menjadi manusia aku Rentang yang luas Dunia memanggilku Gegap gempita penuh Pesona Terbitlah terang di sudut pilihan Tak sia keajaiban datang tepat pilihannya Ia tetap memili aku menjadi manusia sejati Sungguh tangguh Ibuku Harapan terpelihara dalam benak Sembilan Bulan   Identitas terpenuhi Dunia baru dalam Panggilan Pilihan melempar kata Ucap Dunia seraya berpaling Dunia merayakan tangisanku Keluarga menitip kasih. Karya : pAscall Rembe

Sang Perubahan

Gambar
SANG PERUBAHAN ist: dok.Pribadi Wahai.......... Sang Perubahanku Dimanakah engkau Berada Aku selalu mencari-mu aku rinduh pada-mu ingin melihat-mu lagi........ Sungguh......... Engkau pergi jahu dariku Apa kesalahanku Mengapa Engkau tak menghampiriku keberadaanku hanyalah ini...... Menghadapi hidup ini tak mampuh Mengucap kata tak mampuh Berjalan sendiri tak mampuh Semua hanyalah menungguh-mu Wahai Sang Perubahanku......... Aku hanyalah seorang diri menatap hari-hariku yang malang Gugusan tembok menghalangi lirikanku Percikan-paercikan darah bercampuran debuh Mengiasih gugusan tembok...... Kataku....... Pujianku..... hanyalah padamu Wahai Sang Perubahanku Aku menungguh-mu.......... Lembah Telaga Pineleng Tempat tinggal-ku....       Karya:          ...

Sinopsis Pena Hitam Ala Ilusi Keriting

Gambar
Sinopsis Pena   Hitam Ala Ilusi Keriting Ist.Pribadi Peradaban   Manusia berinteraksi dalam alunan hitam tidak menyudikan sesama tidur begitu saja, tanpa ampun mereka membangunkan suatu kota yang ilusinya hitam. Berporak-poranda, menyemangati kegembiraan dalam kabut hitam. Kekawatiran melanda sendi sarap, hampa dalam gelap gempita sudih melepaskan sesama ketika terantuk.  Cairanku tak cukup membangunmu, hanya melangkah dalam kabut hitam sendi –sendiku tak mampuh berteriak, kemanakah kota hitam merajah tanpa ilusi   Nalar jelas. Sesame menyentuhku seakan aku sosok menakutkan. Peri dan kemanusiaan hanyalah ilusi hitam dan tanpa melihat ia berkata ‘’ Siapa Kamu?    Gertakan gigiku diatas kertas kota tak mampuh melunasi selembar histories, kecamuk semakin mengembang manusia berbondong melangkah kedalam dunia hitamku, tanpa peduli, ucapku selamat memasuki. Sungguh Kecamuk merambah Negeriku yang Hitam. Pembaca yang Budiman, dari Ilust...