Budaya Tirani Di Tanah Papua dalam Narasi Kelam
BUDAYA
TIRANI DI TANAH PAPUA DALAM NARASI KELAM
Sebuah Pandangan Kasat
‘Ada/Riil’
Oleh: pAscall Rembe
Foto: Korban Konflik Jayapura
Dalam perkembangan masyarakat Papua, telah berulang kali masyarakat dipaksa
untuk tunduk pada kesadaran nasionalime maupun ideologi diperlakukan dengan
alat-alat kekerasan berupa Senjata. Penggunaan alat kekerasan merupakan pemaksa
kehendak dilakukan karena hendak memperjuankan keadilan dan kebenaran sejarah
kebudayaan yang Carut-marut.
pertentangan ini memang berat dalam
menguasai namun Seringkali, kami memandang suatu tirani yang hanya berfokus pada
suatu kehendak ideolog. Realita yang terjadi selama decade semuanya berkuasa
atas hak-hak masyarakat Papua, tak ada
yang dikenal yang namanya keadilan atau demokrasi setara dalam wawasan lokal. kehadiran sekelompok di tanah Papua memperdebat
kekuasaan demi mendapatkan hak-hak masyarakat Adat Papua dimana disponsori oleh
Kaum Tirani.
Kami mencoba melihat tirania lama,
orang Eropa pada imperium Romawi, Julius Caesar adalah seorang tiran.
Legium-legiumnya selalu membawa peralatan perang serta tameng, demi menaklukkan
suku-suku primitive di dataran Eropa barat. System pemaksaan dilakukan tanpa
perlawanan yang berarti, tanpa pri kemanusiaan sang tiran memerintahkan eksekusi
mati, tanpa memandang usiah, kemudian Negara Berkembang meniruh ratapan
hegemoni.
Dari erah orla, orba, reform, hingga
demokrasi juga semacam itu? Ataukah para Diktaktor juga dalam kategori Tirani? Tentu
jelas, bahwa didalam pemerintahan Indonesia banyak tirani, yang mencari
kepentingan. Dan pula demi kepentingan itu mereka menggunakan sebuah anak panah
dalam busur, untuk membiyangi wibawah kekuatan.
Semenjak
republic ini berdiri, pada 17 agustus
1945, semua wilayah Papua di klaim demi suatu harta karun yang terkandung dalam
perut bumi Cenderawasi (nama Pujian). Para pendahulu Orang Asli Papua mengetahui
sepak terjangnya Soekarno, Ia mengklaim semua wilayah yang mengandung Harta,
dan mengadakan suatu hubungan bilateral dan multirateral yang herat bersama
para Tirani Eropa, dimana masa itu dalam kekuasaan Belanda, kemudian mengadakan
sebuah perjanjian dan sampai pada peralian kekuasaan pada NKRI. Orang papua
saat itu, tidak mengenyang pendidikan Formal, hanya segelintir tokoh yang
mempunyai nalar pengetahuan.
Dari pandangan narasi diatas
menunjukan ada sebuah dogma yang dipelihara demi sebuah kekuasaan yang hakiki.
Narrasi peradaban tirani diatas maka
perlu digaris bawahi kekuasaan tirani di tanah Papua menjadi sekutum
bunga beraroma macam, dari aromanya terciumlah berbagai macam problem termasuk
pelanggaran Hak Asasi Manusia. Akankah aroma ini terus dipelihara di republic
ini? Ataukah para pelaku sudah Ngidam akan tindakan brutal yang hari-hari harus
membunuh demi sebuah kekuasaan tirani?hemat saya, jika republic ini tidak
mengenal ideology maka bisah dikategorikan sebagai Negara yang kehilangan moral
dan identitas.
Penulis: Aktivis Jaringan Jalanan Papua
