ANOMALI NEGARA: KAWIN PAKSA BURUNG GARUDA VS BURUNG CENDERAWASIH
ANOMALI NEGARA: KAWIN PAKSA BURUNG GARUDA VS BURUNG CENDERAWASIH
Dalam perspektif sejarah-sejarah Dunia pada sebuah Bangsa atau Negara.
Kini yang kita dapat jumpai adalah sejarah Bangsanya,Lambang negaranya,Bahasanya, dan juga tidak terlepas dari lagu kebangsaanya yang merupakan suatu Ideologi atau cita-cita hidup dalam suatu berbangsa atau Negara yang Hakiki.
Untuk melihat Anomali Negara antara West Papua dengan Indonesia yang juga merupakan daerah bekas Jajahan “(Kolonial)” Terkait perkawinan antara si Jantang Garuda dengan Cenderawasih Betina, yang menjadi pertanyaan Simplel” Siapakah yang merestui perkawinan mereka dan siapakah yang menjadi orang tua dari kedua belah pihak wanita dan Pria.
Pertanyaan yang Simplel, kini menimbulkan perdebatan yang berkepanjangan yang juga menjadi suatu landasan Hukum pertengkaran kurang lebih 56 tahun lamanya ( 1961-2017). Perkawinan yang berlandas pada suatu tujuan jangka panjang yang defiling oleh orang Tua tersebut atau yang namanya kawin Politik (Investasi)
Hakiki dari perkawinan ini, sangat murni kecintaan sang ayahnya bahkan kerinduan yang sangat besar, melainkan bukan kehendak aku, namun harapan sang ayahnya tanpa memikirkan perjalan hidup ketika aku dipaksakan untuk menikahinya, Duri dalam daging mau tidak mau, suka tidak suka tetap harga mati
Masalah dalam kelambu kini menjadi tontonan bersama, yang dulu hanya sebatas tetangga kini mendunia “aku terbinggun, dengan kebinggugan yang di dibinggukan”
““…..Dialog Logat Papua…..””
Mace Susim : Tolong, tolong demi tuhan sa mati adoo-adoh tolong eee
Mas Jawa : Freeport mama, ko terlalu cerewet eee, ko pu mulut nanti sa jahit dengan tali sepatu, ko batariak nanti orang semua bangun i ni, anjingg..!!!
Mace Susim : Orang semua bangun baru liat ko pu muka yang napsu kuda thu
Om Melanesia : Yolanda, kenapa
Mace Susim : aaah, tidak Om, itu Freport pu bapa dia mabuk baru dia pukul Freeport dengan dia pu adik LNG
Om Melanesia : Dia pukul karna…?
Mace Susim : Om, dia bilang dorang dua harus masuk, baru dia makan
Om Melanesia : Mace Susim, dulu sapa yang suru ko kawin dengan Mas
Jawa itu
Mace Susim : adooh, om ceritanya panjang, (dulu orang barat dong datang
di Kampung, baru dong paksa sa kawin dengan dia)
Trus kalo sa dapat anak nanti dong bantu kasi besar trus
kasi dia sekolah
Om Melanesia : Ohh, Iya,iya Sa su mengerti
Mas Jawa : Om, Apa yang berlalu biarkanlah yang berlalu, karna sekarang
kita hidup yang baru Ok, dan juga sa ingatkan kepada om,
sekali lagi jangan ikut campur tentang masalah internal
dalam keluarga Ok…!!!
Om Melanesia : apahhh, orang yang ko kawin thu dia darimana dan sa
darimana tidak mampu dulu ko kawin dia, ko ada bayar
Kain timur One safe berapa,Piring Gatong berapa, Pohon
Wati berapa bedeng, dan babi berapa ekor, laki-laki tidak
jelas ee “ Yahee
Mace Susim : adooh Om, ini dia mabuk-mabuk trus nhii sa su tidak tau
anak-anak dong pu nasib kedepan lagi nhii
Om Melanesia : Baru anak kecil dua
Mace Susim : adooh Om, Frreport dengan LNG thu dia su bawa ke jawa
sana
Om Melanesia : Kapan yang dong bawa ke-jawa
Mace Susim : om, tidak nonto Tv kha orang-orang di kampung ada
bakalai sampai hancur gara-gara dia
Om Melanesia : Om dong pu Tv nhii tidak dapat itu, nanti kalo anak kecil
dong pu om dari awa ke papua baru nanti keluar di Tv.
Mace Susim : jadi kalo Om kembali thu , Om cari laki-laki lain baru sa
kawin eee
Om Melanesia : Nanti om kembali om kumpul keluarga semua yang ada di
Melanesia,Mikronesia dan Pollynesia sana baru om pergi
urus surat pencerian di orang barat dong pu kota eee..
Mace Susim : Ok uda om’’ sangat di harapan, Tuhan yesus orang Papua
berkati om dalam proses pengurusan perceraian sampai
di titik penghabisan, sepaya akta waris dari kedua anak itu
jatuh di tangan saya eee
Om Melanesia : Kam di situ lagi berdoa-berdoa eee, supaya om dengan
keluarga di sana urus barang-barang lancer dan supaya
kita bisa ketemu seperti dulu yang Oyang dong ada pesan
sama kita bahwa kita ini satu aliran darah
Mace Susim : Ok uda Om,salam Buat keluarga semua yang ada di sana
Demikianlah Realita yang sementara terjadi di Tanah Papua,
oleh: Nus Susim
