Obor Revolusi Sastra Komunis
Obor Revolusi Sastra Komunis
Oleh: Fahrudin Nasrulloh
JEJAK dari Pojok Kampung
Ada persepsi miring dan kelam hingga kini ihwal gerakan Partai Komunis
Indonesia. Pertarungan politik dan ideologi dari masa ke masa memiliki momentum
masing-masing.
Di
negeri ini penistaan dan pengasingan eks PKI atau yang berada di
selingkungannya, baik keluarga maupun sanak saudara. Peristiwa Gestapu 1965
menggebyah semua itu. Sejarah komunisme di Indonesia kian memerah.
Satu-satunya
saksi di mana kita bisa belajar bersama adalah dengan apa semua itu terkabarkan
dan tertuliskan. Yang terceritakan barangkali sudah jarang kita temukan,
lebih-lebih bagi generasi muda sekarang. Saya termasuk generasi yang lahir pada
1970-an yang di masa kecil saya benar-benar dihantui akan cerita-cerita “lubang
buaya”. Terutama saat menonton film G 30S/PKI besutan Arifin C. Noer itu.
Umpatan giris “Darah itu merah, jendral!”, kala sosok perempuan di film
itu mengayunkan silet di tangannya lantas mengiris pelan-pelan wajah sejumlah
jendral, betapa masih terekam sampai sekarang. Lalu cerita-cerita itu
bermunculan sendiri kala film tersebut usai atau di waktu lain saat jagongan
dengan orang-orang tua tetangga saya yang mengalami masa gelap 1965 itu.
Lek
Ndani, diceritakan sebagai penjagal PKI dari barisan Anshor yang disokong TNI
di Jombang. Ia pernah menangkap (dan banyak pula orang PKI yang telah
dibantainya) dan menggeret seorang Gerwani (atau yang disangkanya Gerwani) ke
pinggir pohonan pring di belakang rumahnya, di dekat persawahan. Gerwani itu
dihajar disiksa, disiset kulitnya dalam sehari beberapa kali, agar ia bicara,
agar ia bersuara. Tapi tidak. Lek Ndani pun mengajak tetangganya untuk
melakukan hal yang sama, sesukanya dengan alat apa saja. Dalam waktu 3 hari
yang perih-panas menyayat kuping, Gerwani itu mati, dan sekarang ia menjadi
cerita setan yang gentayangan yang di malam-malam tertentu menghantui
orang-orang yang lewat di situ.
Cerita
itu menjadi “daging” memori yang tak pernah hilang. Penyembelihan dan
pembantaian yang serupa ini banyak terjadi juga di daerah mana saja. Tidak
hanya di buku-buku sejarah. Adik kakek saya, Man Lik, tinggal di kampung Njajar
Santren. Semasa hidupnya sangat bergelora dengan jiwa berjihad kala membabarkan
pengalamannya tersebut kepada saya saat dia di Anshor dulu. Ia bersama 2 atau 3
temannya ditugasi menjagal orang-orang PKI (atau eks yang disangka PKI) yang
kebanyakan terdiri dari para perempuan dan anak-anak. Ilmu kesaktian dan
aji-aji kekebalan mereka tidak lagi diragukan. “Ada Gerwani yang hamil tua.
Tapi ia harus disembelih. Agar saya tega dan tidak dihantuinya, maka, setelah
menggorok dan memutuskan lehernya, saya angkat potongan kepala itu
tinggi-tinggi, lalu darah mengucur deras dan saya mengglogoknya hingga tetes
terakhir,” begitu ceritanya.
Di
daerah Kecamatan Wonosalam yang berhutan, di Jombang, yang kaya akan buah duren
pertaniannya, diceritakan merupakan markas tentara dan simpatisan PKI dan
menjadi tempat persembunyian pasca kegagalan Gestapu. Pun cerita Ludruk Arum
Dalu dari Mojoagung yang merupakan underbow-nya Lekra yang disikat habis Anshor
dan TNI di tahun 1965. Dalam penelitian ludruk Jombang yang kini sedang saya
kerjakan hampir 2 tahun sejak 2008, saya belum menemukan seorang pun narasumber
terpercaya dari anggota ludruk tersebut.
Cerita
macam itu terus merayap dari telinga ke telinga. Berlelayapan sendiri. Seperti
kabar burung tanpa sayap. Yang fakta bisa jadi fiksi, yang fiksi tiba-tiba bisa
jadi fakta. Atau mungkin berada di tengah-tengahnya. Lek Ndani, Man Lik, dan
orang-orang tua tetangga saya, beberapa sesepuh ludruk Jombang yang lamat-lamat
mengingat tragedi Ludruk Arum Dalu adalah contoh dari sepersekian cerita yang
berserak dari peta sejarah pergolakan politik-ideologi di negeri ini yang luput
tercatat.
Obor Pemberontakan PKI 1926
Mereka yang tersunyikan dan terbisukan. Dan para eksil juga sastrawan Lekra,
hanyalah bagian kecil yang mencoba menyuarakan kebisuan dan kesunyian itu.
Misalnya Pramoedya Ananta Toer dengan karya-karyanya. Namun yang perlu kita
cermati adalah pergerakan PKI yang melakukan pemberontakan terhadap
pemerintahan Hindia Belanda dan antek-anteknya pada 12 Desember 1926. Ini
menjadi tonggak penting dalam kesejarahan perjuangan Indonesia melawan imperialisme
bahkan sebelum munculnya Sumpah Pemuda 1928. Dan peran sastra yang disorong
para penulis komunis masa itu membuktikannya.
Pemberontakan
1926 telah menjadi catatan sejarah tersendiri dan dapat kita hikmati dalam
kumpulan cerpen dan puisi Gelora Api 26 (Ultimus, Bandung: 2010).
Sejumlah cerpenis tertoreh di sana: Zubir.A.A., Agam Wispi, Sugiarti
Siswadi, S. Anantaguna, T. Iskandar A.S., A. Kembara. Sedang para penyairnya
ada Alifdal, Chalik Hamid, Anantya, Nurdiana, Mahyuddin, Mawie Ananta Jonie, M.
D. Ani, dan Z. Afif. Seperti cerpen berjudul “Sukaesih” karya sugiarti Siswadi,
yang dibuka dengan baris-baris ini:
Darah siapakah yang menggenang merah
membasahi bumi priangan?
Ah, itulah darah Haji Hasan
dipotong seanak-bininya…
dan si perampok berkulit putih
mengamankan goloknya
Cerpen tersebut, dengan balutan estetika realis, mengisahkan secara apa adanya
akan kegigihan seorang Sukaesih dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai
komunis tulen. Dalam cerpen Agam Wispi “Rapat yang Penghabisan”, ia melukiskan
tokoh-tokohnya yang sehabis melakukan rapat ditangkapi polisi Belanda. Yang
menarik juga, tokoh komunis perempuan, Upik, yang cantik tapi bisu dengan
kalimat: “Kecantikan yang menggoda dan kebisuan yang gelap hanyalah riak di
permukaan air bagi mereka yang tak mengenalnya.” Tokoh Upik inilah, yang tetap
bertahan menyimpan semua ingatan dari kegagalan rapat partai. Puisi-puisi di
dalamnya menyiratkan slogan dan yel-yel perjuangan. Misalnya Anantya, dengan
puisi “Mengangkat Tinggi Panjimu”. Puisi ini melukiskan gigihnya perjuangan
yang akhirnya berujung kegagalan, namun si penyair tetap berseru: “Obor yang
dinyalakan di malam gelap gulita ini, Kami serahkan kepada angkatan kemudian.”
Dan puisi Nurdiana “November Bulan Historis” memuncaki pergolakan batinnya dengan
penggalan bait puisi yang terakhir: Pemberontakan tahun dua enam, Sangkakala
revolusi Indonesia!
Tanah Merah Boven Digul
Pemberontakan PKI tahun 1926-1927 yang gagal terhadap pemerintahan Hindia
Belanda mengakibatkan banyak pejuang PKI yang diasingkan ke Boven Digul, di
rimba raya Irian. Koesalah Soebagyo Toer memberi kesaksian dalam bukunya Tanah
Merah yang Merah: Sebuah Catatan Sejarah (Ultimus, Bandung: 2010). Tan
Malaka menyesalkan pemberontakan yang belum matang itu. Juga Stalin yang
meminta agar pemberontakan itu dibatalkan setelah ia mendapatkan laporan dan
Muso dan Alimin. Tapi pemberontakan itu tetap dilancarkan, dan memang
benar-benar diporak-porandakan. Kegagalan ini wajar, Vladimir Lenin dengan
partainya juga berkali-kali hancur sebelum sukses besar dengan revolusi
sosialisnya tahun 1917. Fidel Castro pun juga pernah mengalami kehancuran
bertubi-tubi, sebelum ia bangkit kembali menancapkan revolusi sosialnya yang
pertama kali di benua Amerika tahun 1959.
Akibat
besar dari kegagalan pemberontakan PKI 1926 sebagaimana yang ditulis Koesalah
adalah harga mati yang mau tidak mau harus dibayar oleh mereka-mereka yang
dibuang ke Digul. Menurut Darman, anak Digul putra Dardiri Soeromidjojo,
perlawanan tersebut adalah pemberontakan nasional Indonesia yang pertama
menentang kekuasaan kolonial Belanda. Persiapannya dilakukan di seluruh wilayah
Indonesia: tidak hanya di Jawa, Sumatra, tapi juga di Sulawesi, Kalimantan,
Maluku, dan Nusa Tenggara. Kendati semua itu dapat ditekuk Belanda. Kehidupan
para tawanan di Digul, seperti digambarkan Rudolf Mrazek dan Takashi Shiraishi,
benar-benar merusak. Merusak segala sendi kenormalan. “Rumah sakit gila”,
terjangan malaria, TBC, kuburan impen-impen nasionalisme, pembuntungan
cita-cita politik yang tak dapat lagi dipertahankan: dan itulah yang diharapkan
Gubernur Jendral de Graeff.
Catatan
sejarah Soebagyo tersebut mengingatkan kita pada pengalaman pahit I.F.M. Chalid
Salim, adik H. Agus Salim, di Tanah Merah dalam bukunya Lima Belas Tahun
Digul: Tempat Persemaian Kemerdekaan Indonesia (Bulan Bintang, Jakarta:
1977), dan pertama kali diterbitkan penerbit Contact dalam bahasa Belanda tahun
1973. Sejarah kamp konsentrasi Hindia Belanda ini bahkan jarang ditulis oleh
orang Belanda. Karya Balans van Beleid yang ditulis Baudet dan Brugmans, hanya
sepintas lalu menyebut Digul. Padahal sejarah kamp Digul yang terentang sejak
1928 sampai 1943 bisa menyibak banyak hal dalam kesejarahan Hindia Belanda dan
perjuangan kemerdekaan Indonesia. Selain Salim dan catatan sejarahnya itu, ada
sosok Uska misalnya, yang bagi peneliti D. van der Meulen seperti yang dikutip
W. Schermerhorn dalam mengapresiasi buku ini, lebih perih penderitaannya
ketimbang yang diceritakan Salim. Meulen yang saat itu menjadi amtenar (pangreh
praja) sempat bertemu Uska di Tanah Tinggi. “Ia digulis yang pantang menyerah.
Ia tidak bisa ditaklukkan. Pada dirinya tersembunyi kepahitan, daripada jiwanya
Salim,” kenangnya dalam karya yang ia tulis Ik Stond er Bij.
Digul
bagi Salim adalah lambang perziarahan politik yang nyaris dilupakan Soekarno.
Ia meratap dan minta ampun agar tidak dibuang ke Digul. Ini pengakuan Moh.
Hatta, yang pernah jadi digulis bersama Sutan Syahrir. Belanda mengabulkan, dan
mengasingkannya ke Flores, tentu dengan pertimbangan supaya si bung besar itu
jiwanya “melembek”, dan tidak tambah berkobar bila ia didigulkan. Saat ia suatu
hari terbang di atas tanah merah tahun 1963, ia hanya memberi penghormatan dari
ketinggian udara, mungkin gentar dengan kamp neraka politik itu. Tapi Cindy
Adams mencatat keharuan Soekarno: “Banyak komunis yang tubuhnya mengisi
kuburan-kuburan tak bernama di Digul, mereka adalah pejoeang-pejoeang untuk
kemerdekaan kita! Mereka tetap merupakan patriot besar!”
Karya-karya
mantan digulis tidak sekedar catatan perjalanan, namun sebuah tindakan
pembangkitan, sarana proletariat melawan kolonialisme, mengumpulkan jejak
sejarah yang tercecer sebagai bandingan dari dokumen-dokumen Belanda yang
sepihak. Agar suara-suara silam yang terbungkam terkubur, tidak
disirnakan.
Dari Memoar Hingga Catatan Perjalanan
Kawula muda sekarang mungkin bertanya, komunisme itu apa? Tentu komunisme
mengeram sejarah panjangnya sendiri. Boleh jadi gambaran entengnya seperti ini:
“Sebelum menjadi apa-apa jadilah dulu seorang komunis”. ungkapan ini dirumuskan
oleh generasi sosialis di kemudian hari yang disuling dari pemikiran seorang
penyair sosialis Rusia, Nekrassov. Apa kiranya yang kita pahami tentang karya
sastra yang dilahirkan dari ketegangan antara ideologi politik realisme
sosialis dengan ideologi kapitalisme? Fakta sejarah baik berupa karya sastra,
memoar, catatan perjalanan, maupun penelitian telah banyak mengabarkan kepada
kita. Di antaranya adalah sebuah memoar yang berjudul Azalea: Hidup
Mengejar Ijazah (Klik Books, Jakarta: 2009) yang dianggit secara
prosais oleh Asahan Alham, adik DN. Aidit dan Sobron Aidit. Nuansa petualangan
romantik dengan latar tahun sekitar 1960-an ini padat-rinci dengan penghadiran
tokoh sentral, Sulaiman. Pergolakan revolusioner kaum sosialis (PKI) hanya
dijadikan lanskap, namun justru dari situlah kita dapat melihat sisi lain dan
kepiawaian Asahan dalam mengolah kembali cerita-cerita masa lalunya.
Tatiana
Lukman adalah seorang eksil dari pasangan M.H. Lukman (1920-1965) dengan Siti
Niswati. Ayah Tatiana merupakan sosok penting di teras pimpinan PKI dan wakil
ketua DPR Gotong Royong pada masa pemerintahan Presiden Soekarno di era 60-an.
Sebagai anak dari tokoh PKI, Tatiana juga terkena imbas. Studinya di Tiongkok
morat-marit dari tahun 1964-1966. Lalu pindah ke Kuba, kemudian ke Habana,
Perancis, menjadi pengajar bahasa Perancis selama 12 tahun. Terakhir ia tinggal
di Amsterdam, dan dari semua perjalanan itu ia terus mencatat kembara
pengasingannya dalam bentuk novel Pantha Rhei dan memoar yang berjudul Pelangi
(Ultimus, Bandung, 2010).
Kita
juga bisa menyimak buku Perjalanan Jauh: Kisah Kehidupan Sepasang Pejuang
(Ultimus, Bandung: 2010) karya M. Ali Chanafiah dan Salmiah Pane. Buku ini
menceritakan perjalanan hidup mereka sebagai sepasang suami-istri yang
ikut-andil dalam perjuangan kemerdekaan RI. Kisah tentang sebuah keluarga,
dengan gaya penceritaan kakek-nenek kepada anak-cucunya. Sosok Pak Ali, yang
pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di Srilanka pada 1965, lebih cenderung
sebagai pendidik, ketimbang politikus, sebagaimana yang dituturkan Asvi Varman
Adam dalam pengantarnya. Ia pernah berjumpa dengan Pak Karno secara intens
ketika proklamator itu diasingkan ke Bengkulu. Sedang istri Ali, Salmiah Pane,
merupakan adik dari Sanusi Pane dan Armijn Pane, dua sosok yang tidak asing
lagi dalam khazanah sastra Indonesia. Karya dari dua pengarang ini penting jadi
bacaan yang berharga bagi masyarakat, untuk dapat meneladani kegigihan, watak
kebangsaan, ketabahan, dan perjuangan nasionalisme yang tak kenal lelah.
Peran Sastra Realisme Sosialis dan Sastra Kita Kini
Tema kerakyatan dan spirit revolusiner dalam karya sastra realisme sosialis
adalah “sastra keterlibatan” yang penuh seluruh terhadap kecamuk problematik
kehidupan. Kendati kebenaran realisme sosialis yang diperjuangkan oleh
sastrawannya adalah kebenaran doktriner sebagaimana yang ditancapkan
Marxisme-Leninisme. Tapi itu hanyalah salah satu jalan. Watak berkarya mereka
demi membangun militansi mempertahankan kemandirian berpikir dan
mengembangkan antikapitalisme internasional. Tidak kenal kompromi, tak kenal
menyerah. Ini terlukis dalam pemikiran Maxim Gorki, lewat novelnya Ibunda,
menjadikan tonggak penting realisme sosialis dalam seni dan gagasan menatap
hari depan, tidak patah arang sebab tangisan dan rengekan, melainkan bahwa
cita-cita dan idealisme harus diperjuangkan dan terus dibangkitkan. Gorki
sebagai sastrawan terkemuka Rusia tak memencilkan diri di menara gading, juga
tak nyebut diri “pengarang murni”, yang hanya mau tahu dirinya sendiri. Sastra
yang tidak hanya untuk sastra, namun keterlibatan sastrawan dengan kenyataan
riil, misalnya politik, adalah suatu keharusan. “1001 kali seniman tidak
berpolitik, 1001 kali pula politik akan mencampuri seniman,” demikian ungkapan
tokoh Lekra Joebaar Ajeob.
Maka
seniman harus tahu dan memahami politik, sejarah, dan ekses dari pengaruh luar
yang menggerogoti nasionalisme dan watak kebudayaan bangsanya. Ia tak musti
masuk partai. Tak alergi dengan politik. Kita bisa merujuk hal-ihwal karya yang
bersinggungan dengan itu misalnya pada Komedi Manusia karya Balzac, Anak
Revolusi karya Balfas, sajak “Diponegoro” karya Chairil Anwar, Percikan
Revolusi dan Di Tepi Kali Bekasi karya Pamoedya Ananta Toer, Rasa
Mardika karya Marco Kartodikromo, puisi “Elegi Jakarta” karya Rivai Apin,
dan lain-lain. Sastra harus mempunyai fungsi sosial, mengabdi pada rakyat, dan
beroriantasi dialektik dengan kenyataan, bahkan dapat diterapkan dalam
kepartaian, seperti gagasan Lenin tahun 1905, untuk menjadi bagian penyokong
mekanisme sosial-demokratik.
Bagaimana
dengan sastra dan pengarang-pengarang muda saat ini? Tentu bukan sekadar
merayakan dan mengurusi diri sendiri dalam kebebasan berkarya, dan tantangan
itu sekarang lebih kompleks dan tersamar, di mana kini media teknologi kian
canggih (fenomena bersastra via facebook misalnya), ruang dan kesempatan
berdiskusi kecil-kecilan mengudar aneka gagasan makin sempit dan mahal, yang
mana semua pergeseran itu dengan sendirinya melahirkan eksklusivitas,
kejumudan, dan kepicikan.
Pada
beberapa karya yang disinggung di atas, obor revolusiner seolah-olah tak pernah
padam, sebab begitulah percampuhan manusia di jamannya. Ada sesuatu yang harus
dinyalakan sendiri bagi tiap pengarang di masa kini, agar karya sastra mampu
berperan konstruktif dan turut membangun masyarakatnya, tanpa kehilangan
estetika sebagai landasan kreatifitasnya.
*bergiat
di Komunitas Lembah Pring Jombang
